jump to navigation

Ifta’ 26 Januari 2007 March 24, 2007

Posted by cfssyogya in Tanya Jawab.
1 comment so far

Mengqadla’ Shalat

Redaksi At-Tafaqquh yang berbahagia!
Saya pernah mendengar sebuah hadits, kalau tidak salah berbunyi, la qadla’a illa fi al-shaum, tidak ada qadla’ kecuali dalam puasa. Yang saya tanyakan bagaimana dengan orang yang mengqadla’shalat Subuh misalnya, yang memang rentan sekali ditinggalkan? Sahkah shalat yang mereka qadla’, sedangkan kita tahu bahwa shalat subuh itu tidak bisa dijama’ dan diqashar seperti shalat-shalat yang lain ? Terima kasih.
Donny Handriawan
E-mail: donny_hand@yahoo.com

Saudara Donny yang dimuliakan Allah! Untuk menjawab pertanyaan saudara tentang qadla’ shalat, terlebih dahulu harus mengetahui apa itu qadla’. Dalam ushul fiqh qadla’ didefinisikan dengan melaksanakan ibadah di luar waktu yang telah ditentukan. Lalu, dalam pembegian wajib juga ada istilah wajib muaqqat (telah ditentukan waktu pelaksanaannya oleh syari’, Allah dan Rasul-Nya), dan wajib ghairu muaqqat (tidak ada ketentuan waktu secara khusus), seperti kewajiban memebayar sanksi melanggar sumpah (kaffaratulyamin). Shalat termasuk wajib muaqqat, di mana pelaksanaannya sudah ada ketentuan khusus dari syari’. Dengan demikin, ketika kewajiban shalat itu tidak terlaksana sesuai dengan waktu yang ditentukan, berarti secara otomatis harus dikerjakan di luar waktunya, dan itu disebut qadla’.

Mengenai hadits yang saudara tanyakan, sepengetahuan kami bunyi redaksinya tidak demikian, tetapi maksudnya sama dengan yang dipahami saudara. Namun, hadits tersebut terkait dengan qadla’ yang dihubungkan dengan haid yang dialami oleh seorang perempuan. Lengkapnya hadits itu seperti ini, ketika ‘Aisyah ditanya oleh seorang perempuan tentang qadla’ yang berhubungan dengan haid, lalu ‘Aisyah menjawab: “saya diperintah (oleh Rasul) untuk mengqadla’ puasa, dan tidak diperinath untuk mengqadla’ shalat”(kunna nu’maru bi qadla’ al-shaum, wa la nu’maru bi qadla’ al-shalah). Kalau ditinjau dari maqashid al-syari’ah-nya, pembedaan mengqadla’ ibadah shalat dan puasa bagi perempuan yang haid bertujuan untuk menghindari kemudlaratan (daf’ul madlarrah). Sebab shalat merupakan kewajiban yang berulang-ulang setiap hari, sehingga kewajiban mengqadla’ sangat memberatkan bagi perempuan. Sementara Allah menghendaki kemudahan dalam syari’at-Nya (ma ja’ala ‘alaikum fi al-dini min haraj, QS. Al-Hajj/22: 78). Berbeda dengan puasa yang hanya satu kali dalam setahun, sehingga tetap ada kewajiaban mengqadla’.

Jadi, sah-sah saja orang mengqadla’ shalat yang tidak terlaksana dalam waktu yang ditentukan, tetapi kalau tanpa alasan (udzur), orang tersebut berdosa. Selanjutnya, masalah qadla’ ini tidak ada kaitannya dengan jama’ dan qashar seperti yang ada dalam pertanyaan saudara, karena jama’ dan qashar itu merupakan rukhshah (bonus/dispensasi dari Tuhan) disebabkan ada alasan tertentu. (Lihat Zakaria al-Anshariy, Ghayah al-Ushul ‘ala Lubb al-Ushul, hlm. 17; Abd. Wahhab Khallaf, Ilm Ushul al-Fiqh, hlm. 108; Yusuf Qardlawi, Fiqh al-Shiyam, hlm. 39).

Menyentuh Al-Qur’an

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya sering melihat teman saya di tempat saya ngaji, ketika datang dia langsung mengambil al-Qur’an, padahal yang saya tahu dia belum berwudlu’. Setelah berkali-kali berbuat seperti itu, saya penasaran dan bertanya langsung kepada yang bersangkutan. Tapi dia menjawab, tidak apa-apa walaupun belum suci, wong bukan al-Qur’an yang ada di langit sana kok. Saya yang lebih rendah pengetahuan agamanya dibanding dia, hanya diam mendengar jawabannya. Saya masih penasaran bagaiaman sebenarnya hukum menyentuh al-Qur’an bagi orang yang belum wudlu’ (tidak suci)? Terima kasih.
Tohari Syah
HP: 0813280XXXXX

Saudara Tohari yang berbahagia, al-Qur’an merupakan firman Allah yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Karena itu, al-Qur’an harus diagungkan oleh seluruh umat Islam. Salah satu bentuk pengaguangn terhadap al-Qur’an adalah larangan menyentuhnya apabila tidak dalam keadaan suci (hadats), baik hadats kecil maupun hadats besar. Lalu apa yang dijadikan dasar oleh para ulama’ tentang larangan tersebut? Biasanya mereka mengacu pada surat al-Waqi’ah[56] ayat 79 sebagai dalil. Bunyi ayatnya seperti ini:

لاَ يَمَسُّهُ إلاَّ الْمُطَّهَّرُوْنَ
“Tidak menyentuhnya (al-Qur’an) kecuali orang-orang yang disucikan”.

Berdasarkan ayat di atas, maka menyentuh al-Qur’an tidak boleh kecuali dalam keadaan suci. Namun, sebagian pendapat ahli tafsir menyatakan bahwa ayat di atas tidak dapat dijadikan dalil haramnya menyentuh al-Qur’an bagi orang yang berhadats, sebab yang dimaksud al-Qur’an dalam ayat itu adalah al-Qur’an yang ada di luh mahfudz sana, sebelum diturunkan ke dunia, bukan yang ada di dunia ini. Selain itu, lafadz la dalam dalam kalimat la yamassuhu tidak berbentuk larangan (nahy), tetapi hanya kalam khabar (sekedar informasi). Allah menginformasikan bahwa al-Qur’an yang ada di luh mahfudz tidak pernah tersentuh oleh siapapun kecuali malaikat yang disucikan (al-mutthahharun). Dengan begitu, yang dimaksud orang-orang yang disucikan adalah para malaikat. Ayat setelahnya (ayat 80) juga mempertegas bahwa yang dimaksud adalah al-Qur’an yang ada di atas sana. Sebab ayat selanjutnya berbunyi: tanzilun min rabbil ‘alamin, diturunkan dari Tuhan yang mengusai alam semesta. Ini berarti yang diceritakan Allah adalah al-Qur’an yang ada di atas sana, sebelum diturunkan. Atas dasar ini, mereka berpendapat bahwa orang yang berhadats tidak haram menyentuh al-Qur’an yang ada di hadapan kita sekarang.

Mengomentari penafsiran di atas, Ibnu Taimiyah berkata bahwa ayat tersebut secara isyariy (tersirat) menunjukkan keharaman menyentuh al-Qur’an dalam keadaan tidak suci. Logika sederhannya, ketika Allah menginformasikan bahwa al-Qur’an tidak pernah tersentuh kecuali oleh mereka yang disucikan, yaitu para malaikat, maka seharusnya al-Qur’an yang ada di hadapan kita sekarang juga tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci (dari hadats). Pendapat ini juga diamini oleh Muhammad ‘Ali al-Shabuniy dalam kitabnya, Rawa’i al-Bayan. (Lihat Muhammad ‘Ali al-Shabuniy, Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahakm, juz. I, hlm. 507; al-Shan’aniy, Subul al-Salam, juz. I, hlm. 71).

Advertisements